NGANJUK, patroli-crime.id_ Pelaksanaan purnawiyata siswa kelas IX SMPN 1 Nganjuk yang digelar di Pendopo Kabupaten Nganjuk menjadi perbincangan di kalangan wali murid. Acara yang dikemas meriah dengan berbagai atribut khusus tersebut dinilai sebagian orang tua menyerupai resepsi hajatan.
Dalam kegiatan itu, siswa laki-laki tampil mengenakan jas lengkap dengan hasduk khusus bertuliskan "Intek 2023" dan "Class of 2026". Sementara para siswi mengenakan gaun seragam berwarna merah marun yang menambah kesan elegan pada prosesi pelepasan.
Tak hanya itu, acara juga dimeriahkan dengan prosesi pedang pora yang diperankan sejumlah siswa mengenakan pakaian menyerupai pasukan khusus. Mereka dikawal oleh siswi kelas VII yang mengenakan busana menyerupai penari penyambutan.
Kemegahan acara semakin terlihat dari undangan yang dibuat layaknya undangan pesta keluarga serta konsumsi yang dikemas dalam kotak makan dan dibagikan menggunakan tote bag berwarna hijau. Seluruh siswa hadir didampingi orang tua masing-masing, sementara para guru mengenakan pakaian formal. Guru perempuan tampil dengan kebaya berwarna pink dan guru laki-laki menggunakan jas hitam.
Di balik kemeriahan tersebut, sejumlah wali murid mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan pakaian yang telah ditentukan panitia.
"Susah mencari gaun dengan warna yang sama seperti ketentuan. Akhirnya banyak yang memilih menyewa. Untuk anak laki-laki juga harus mencari jas, sehingga menambah pengeluaran," ungkap salah satu wali murid.
Keluhan tersebut muncul di tengah masih berlakunya Surat Edaran Bupati Nganjuk Tahun 2025 tentang penyelenggaraan purnawiyata atau pelepasan siswa. Dalam surat edaran tersebut ditegaskan bahwa kegiatan pelepasan siswa hendaknya dilaksanakan secara sederhana, kreatif, inovatif, serta tidak membebani orang tua atau wali murid.
Pemerintah daerah juga mengarahkan agar kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah maupun memanfaatkan fasilitas milik pemerintah dengan tetap mengedepankan nilai pendidikan dan kebersamaan.
Sejumlah wali murid menilai semangat kesederhanaan yang tertuang dalam surat edaran tersebut seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam penyelenggaraan kegiatan perpisahan sekolah. Menurut mereka, momen pelepasan siswa cukup dilaksanakan secara sederhana namun tetap berkesan tanpa harus menimbulkan pengeluaran tambahan yang dirasakan memberatkan sebagian keluarga.
Meski demikian, mereka mengakui acara berlangsung meriah dan menjadi pengalaman yang berkesan bagi para siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Sampai berita ini diterbitkan, pihak SMPN 1 Nganjuk belum memberikan tanggapan resmi terkait pelaksanaan kegiatan purnawiyata tersebut maupun keluhan yang disampaikan sejumlah wali murid.(sy)

0 Komentar