Live TikTok Saat Jam Kerja, Relawan SPPG Balongrejo Asyik Bercanda dan Sindir SPPG Lain


NGANJUK, patroli-crime.id_ Sebuah siaran langsung (live streaming) yang dilakukan dua orang relawan yang mengaku sebagai ahli gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Balongrejo, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, memunculkan tanda tanya besar mengenai profesionalisme dan etika selama menjalankan tugas pelayanan publik.

Pada Jumat, 5 Juni 2026 sekitar pukul 07.50 WIB, keduanya terpantau melakukan siaran langsung melalui akun TikTok bernama SPPG Balongrejo Berbek. Dalam tayangan tersebut, mereka terlihat aktif membaca, menanggapi, dan bercanda dengan para penonton yang mengirimkan komentar.

Sekilas, aktivitas itu mungkin tampak biasa di tengah maraknya penggunaan media sosial. Namun persoalan muncul ketika siaran tersebut dilakukan menggunakan identitas lembaga dan berlangsung saat aktivitas pelayanan di lingkungan SPPG sedang berjalan.

Sepanjang tayangan, fokus kedua streamer tampak lebih banyak tertuju pada komentar yang bermunculan dibanding menjelaskan tugas ataupun edukasi terkait pelayanan gizi yang menjadi fungsi utama SPPG.

Salah satu momen yang menuai perhatian terjadi ketika seorang penonton menanyakan keberadaan seseorang bernama Bagas.

Alih-alih menjawab secara wajar, salah seorang streamer justru melontarkan kalimat yang diselingi penyebutan nama hewan.

"Bagas sopo iki. Bagas anu to, Bagas, Bagas, Bagas Celeng. Bagas gak masuk iki," ucapnya sembari tertawa.

Ucapan tersebut kemudian disambut tawa oleh mereka yang berada dalam siaran langsung.

Tidak berhenti di situ, saat seorang penonton lain memperkenalkan latar belakang pendidikan sambil menanyakan peluang pekerjaan, komentar tersebut kembali dijadikan bahan candaan.

"Kamu itu kok lulusannya banyak banget sih," ujar salah satu streamer sambil tertawa.

Interaksi yang awalnya sekadar hiburan kemudian berlanjut ke pembahasan mengenai SPPG lain di Kabupaten Nganjuk.

Ketika seorang penonton menanyakan SPPG yang dianggap paling lama dalam pelayanan, kedua streamer justru secara terbuka menyebut nama salah satu lokasi.

"Bagian sing suwi dewe ndi, Mbak, neng Nganjuk," baca salah satu streamer dari kolom komentar.

Setelah saling bertanya, keduanya kemudian menjawab secara bersamaan.

"Tiripan," ucap mereka sambil tertawa.

Pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi tertentu di tengah masyarakat, terlebih disampaikan melalui akun yang menggunakan identitas SPPG dan tanpa disertai data ataupun penjelasan yang dapat diverifikasi.

Momen lain yang tidak kalah menarik muncul saat seorang penonton bertanya mengenai lowongan pekerjaan bagian "incip-incip" atau pencicip makanan.

Pertanyaan itu dijawab dengan nada bercanda.

"Incip-incip itu cuma ahli gizi, bener ini ahli gizi," kata salah seorang streamer.


Sementara ketika ada komentar yang menyebut pekerjaan mereka tampak santai karena bisa bermain telepon genggam, salah satu streamer memberikan respons yang juga disertai tawa.

"Iyo sing tak ketokne dolanan HP, gak tak delokme mumete," ujarnya.


Tayangan tersebut kini memunculkan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah penggunaan akun resmi atau akun yang membawa identitas SPPG untuk aktivitas hiburan pribadi telah sesuai dengan standar etika kerja? Apakah siaran langsung tersebut dilakukan saat jam tugas berlangsung? Dan sejauh mana pengawasan terhadap aktivitas media sosial yang mengatasnamakan lembaga pelayanan publik?


Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi relevan mengingat SPPG merupakan bagian penting dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi masyarakat yang dibiayai menggunakan anggaran negara. Karena itu, publik tentu berharap seluruh sumber daya yang terlibat dapat menjaga profesionalisme, fokus pelayanan, serta komunikasi yang mencerminkan tanggung jawab institusi.


Hingga berita ini ditulis, belum ada penjelasan resmi dari pihak SPPG Balongrejo maupun pihak terkait mengenai tujuan siaran langsung tersebut, status kedua streamer, serta apakah aktivitas tersebut dilakukan dalam kapasitas pribadi atau mewakili lembaga.


Publik kini menunggu klarifikasi. Sebab yang menjadi sorotan bukan sekadar candaan dalam sebuah siaran langsung, melainkan bagaimana citra sebuah layanan publik dipertaruhkan di hadapan ribuan pasang mata melalui layar media sosial.(tim) 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Sangat di tunggu klarifikasinya, semoga live lagi soalnya saya juga mau gift

    BalasHapus